Jl. Raya Cileungsir No. 206 Dsn. Leuweunggede Rancah Ciamis 46387 Telp. (0265) 740689 / HP. 081320761013, 087826952756

Thursday, April 30, 2026

Keluarga Besar JAVA COMPANY Mengucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional 02 Mei 2026


Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) setiap tanggal 2 Mei seringkali menjadi momen yang kontradiktif. Di satu sisi, kita merayakan warisan Ki Hadjar Dewantara dengan semboyan Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Berubah-rubahnya kurikulum dan dengan berbagai kebijakan lain. Namun di sisi lain, potret pendidikan kita masih kerap dibayangi oleh angka-angka yang menempatkan Indonesia di posisi "papan bawah" dalam peta persaingan global.

1. Realitas Kualitas: Skor PISA yang Stagnan

Salah satu parameter yang paling sering menjadi sorotan adalah skor PISA (Programme for International Student Assessment). Saat negara-negara tetangga seperti Singapura memuncaki peringkat dunia dalam literasi, matematika, dan sains, Indonesia masih berjuang di peringkat bawah.

2. Kesenjangan Infrastruktur dan Digitalisasi

Jika di negara maju seperti Finlandia atau Jepang pendidikan sudah berbasis teknologi terintegrasi secara merata, Indonesia masih menghadapi masalah dualitas pendidikan.

a) Pusat vs Daerah: Di Jakarta, siswa mungkin sudah belajar dengan tablet dan internet cepat. Namun, di pelosok 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), gedung sekolah yang hampir roboh dan ketiadaan akses listrik masih menjadi pemandangan pilu.

b) Rasio Fasilitas: Laboratorium sains dan perpustakaan yang memadai masih menjadi barang mewah bagi sebagian besar sekolah di Indonesia, yang berakibat pada rendahnya penguasaan praktik dibanding teori.

3. Kesejahteraan dan Kualitas Guru

Guru adalah jantung pendidikan, namun di Indonesia, profesi ini masih terhimpit masalah kesejahteraan, terutama bagi para guru honorer. Karena akan sangat berdampak terhadap etos kerja dan rasa mencintai akan profesi.

4. Relevansi Lulusan dengan Dunia Kerja (Link and Match)

Data angka pengangguran saat ini masih memprihatinkan kita semua, termasuk konstribusi dari lulusan sekolah-sekolah. Hal ini menunjukkan adanya ketidaknyambungan antara apa yang diajarkan di kelas dengan kebutuhan industri. Sekalipun sudah ada program vokasi dengan sistem dual education, namun belum bisa menjawab permasalahan tersebut di atas.

5. Rendahnya Pemhaman dan Minat Berwirausaha.

Kita semua memiliki kewajiban untuk melakukan intervensi melalui regulasi, kurikulum, penyuluhan, pelatihan, kursus, penyediaan permodalan, penciptaan iklim usaha, serta bentuk-bentuk lain yang relevan, sehingga minat peserta didik menjadi tinggi untuk berani terjun menjadi pengusaha.

Sehingga Hardiknas bukan sekadar upacara bendera berpakaian adat. Ini adalah alarm tahunan bahwa "Kualitas Pendidikan" harus melompat lebih jauh. Kita semua tidak boleh merasakan nyaman dalam ketertinggalan pendidikan, sementara dunia sedang berlari dan bertransformasi bersama hadirnya era disrupsi yang berubah begitu cepat.

Namun ketertinggalan ini bukanlah vonis, melainkan pekerjaan rumah besar untuk memastikan bahwa pendidikan bukan hanya menjadi hak bagi mereka yang mampu, melainkan menjadi tangga eskalator sosial yang nyata bagi seluruh anak bangsa tanpa terkecuali.


0 comments:

Post a Comment